Hewan Liar Yang Sering Dijumpai Saat Mendaki Gunung


Saat mendaki gunung mungkin sobat akan berjumpa dengan beberapa hewan liar yang masih berkeliaran dengan bebas di dalam hutan-hutan yang ada di Indonesia. Bertemu hewan liar akan menjadi pengalaman yang menakjubkan dan tak terlupakan, dengan catatan, kita mengetahui apa yang harus dilakukan ketika berjumpa dengan hewan liar.


Di alam, kita adalah tamu, kita tidak sendirian, dan kita berada di rumah mereka, para hewan liar, yang semakin hari keberadaannya semakin terancam karena pesatnya pembangunan dan perusakan hutan.


Kemungkinan untuk bertemu dengan hewan liar saat mendaki gunung itu cukup besar. Tapi tidak semua hewan dapat dengan mudah kita jumpai. Beberapa hewan seperti babi hutan dan monyet memang sering 'nyelonong' lewat di jalur pendakian.


Berbeda dengan hewan-hewan endemik daerah tertentu seperti harimau dan gajah sumatera yang tentunya hanya akan kita jumpai ketika berada di pedalaman hutan Sumatera. Atau orangutan, yang mungkin tidak akan pernah kita jumpai pada hutan di Jawa.


Hewan-hewan predator besar seperti macan tutul, macan kumbang, macan dahan juga jarang dijumpai karena memang zona berburu mereka sengaja dibuat jauh dari jalur pendakian umum. Kecuali jika kita sengaja melakukan ekspedisi masuk ke hutan yang lebih dalam.


Tetapi bukan tidak mungkin kita berjumpa dengan hewan predator ini, karena ya siapa tahu kan. 
Berikut ini adalah beberapa hewan yang sering dijumpai saat mendaki gunung.

1. Babi Hutan


Babi hutan sampai saat ini masih menjadi hewan favorit pemburu. Bukan tanpa alasan, hal ini dikarenakan populasi babi hutan masih sangat banyak, bahkan saking banyaknya, terkadang mereka dapat dijumpai di perbatasan hutan dekat dengan lahan penduduk dan menjadi hama bagi tanaman budidaya penduduk.


Waktu penulis bertugas di daerah pedalaman Sumatera Selatan, sering sekali menjumpai babi hutan ini. Kalau bertemu di dalam hutan mungkin tidak heran lagi, lah ini penulis ketemu babi hutan sedang melenggang santai menyeberang jalan setapak dekat rumah pak kepala desa.


Babi hutandapat dijumpai di beberapa jalur pendakian gunung di Indonesia yang masih berhutan lebat. Seperti gunung Argopuro, Sumbing, Sindoro, dll.



Ketika bertemu dengan manusia, biasanya babi hutan akan langsung ngeloyor pergi masuk ke dalam semak-semak yang tinggi. Tapi tidak jarang juga ada pendaki yang menjumpai babi hutan sedang mengobrak-abrik tenda mereka, mencari sesuap nasi.


Gunung yang masih banyak babi hutannya biasanya mempunyai banyak jalur liar. Jalur-jalur ini kalau tidak kita waspadai bisa membuat kita tersesat. Alih-alih mengikuti jalur resmi, kita justru mengikuti jalur babi hutan yang entah kemana rimbanya.


Kalau sobat kebetulan ketemu babi hutan, diamlah dulu dan awasi gerak-gerik mereka agar bisa memprediksi arah serang mereka. Atau kalau kamu yakin, usir saja mereka dengan berteriak keras-keras atau meniup peluit.


2. Monyet


Nah hewan usil ini populasinya di alam liar masih sangat banyak. Tidak hanya di pegunungan, bahkan di pinggir pantai juga masih dapat ditemui.


Saat mendaki gunung, monyet dapat dijumpai pada daerah yang tidak terlalu tinggi, atau daerah yang masih banyak vegetasinya. Biasanya monyet sering terlihat sedang bergelantungan di atas pohon. Sebelum melihatnya, kita pasti akan mendengar suara teriakan mereka lebih dulu.


Mereka tidak akan malu-malu menunjukan keberadaan mereka karena mereka punya insting 'wilayah kekuasaan'. Ketika mereka berteriak sahut-menyahut, itu artinya mereka ingin memberitahu kita kalau saat ini kita sedang berada di dalam wilayah kekuasaan monyet-monyet tersebut.



Pada jalur pendakian gunung yang ramai, dalam artian, gunung tersebut sering di jejaki manusia, monyet tidak akan sungkan untuk meminta makanan kepada kita. Bahkan justru seringnya nongkrong di area camp ground, berharap mendapat 'jatah preman' alias makanan dari para pendaki.


Yang harus dilakukan jika bertemu monyet adalah, jangan pernah memberi mereka makanan, karena selain membuat mereka jadi manja, memberi makanan kepada monyet juga membuat mereka jadi ketergantungan dengan keberadaan kita dan mengurangi kemampuan mereka untuk mencari makan di alam liar.


Selalu pastikan tas dan tenda kalian tertutup rapat agar monyet tidak dapat 'mencuri' makanan dari kalian.


3. Ular


Tidak hanya di hutan dan pegunungan, kita masih bisa menjumpai ular bahkan di kebun belakang rumah dan daerah persawahan.


Ular ini saking pintarnya dalam berkamuflase membuat kita kadang tidak menyadari keberadaannya. Biasanya ular kedapatan sedang bertengger diatas pohon, dibawah semak-semak yang lebat, atau di sekitar batang pohon yang lapuk.



Sebenarnya ular tidak akan menyerang jika tidak kita ganggu. Kebanyakan serangan ular kepada manusia dikarenakan kita tidak sengaja mengusik atau menginjak ular tersebut sehingga si ular ini merasa terancam dan menyerang kita.


Bahkan jika kita tidak hati-hati, tenda tempat kita beristirahat bisa dimasuki ular. Untuk mengantisipasi agar ular tidak masuk tenda, kalian bisa baca artikel ini 'Cara Supaya Ular Tidak Masuk Tenda'.


Tidak semua ular yang kita temui di hutan adalah ular berbisa. Kalian bisa membedakan mana ular berbisa dan tidak berbisa dengan memperhatikan kepalanya. Jika kepala ular berbentuk seperti sendok, maka bisa dipastikan kalau ular tersebut berbisa.


Jika menjumpai ular saat mendaki gunung, maka hal pertama yang harus kamu lakukan adalah menjauhinya pelan-pelan, jangan berusaha mengusik atau mengganggunya.



4. Anjing Hutan / Ajag


Dulu, waktu penulis mendaki Gunung Slamet, saat sedang lelap-lelapnya tertidur di dalam tenda, penulis terbangun oleh sebuah suara mirip dengan auman serigala, tidak hanya satu, tapi ada beberapa saling menyahut. Tak lama kemudian ada suara 'kresek-kresek' dan geraman mirip suara anjing di luar tenda. Untung waktu itu posisi tenda sudah tertutup rapat.


Terjaga, penulis menunggu di dalam tenda dengan posisi siaga memegangi pisau survival. Untung kawanan hewan tersebut tidak berada lama di sekitar tenda. Mungkin sekitar sepuluh menit kemudian suasana kembali sunyi.


Gerombolan hewan yang sempat mampir di tenda penulis itu kemungkinan besar adalah Anjing Hutan Jawa, atau sering disebut juga dengan nama 'Ajag' atau 'Segawon' dalam bahasa jawa.



Ajag tidak sama dengan serigala walaupun mereka berkerabat dekat. Ajag juga bukan merupakan nenek moyang anjing domestik / peliharaan.


Ajag merupakan spesies tersendiri dengan nama latin Cuon alpinus dimana saat ini populasinya dikategorikan dalam status konservasi endangered (Terancam Punah) oleh IUCN Redlist sejak tahun 2004 sebagai akibat dari rusaknya hutan sebagai habitat ajag, berkurangnya hewan buruan (mangsa) ajag, dan perburuan liar.


Umumnya ukuran tubuh ajag lebih besar dibanding anjing kampung dan  mempunyai bulu berwarna cokelat dengan dada bewarna putih. Bulu ekor ajag juga lebih tebal serta memiliki warna agak gelap.


Ajag hidup berkelompok dan beraktifitas pada waktu malam hari untuk mencari makan. Jadi jangan pernah meninggalkan sisa makanan apapun di luar tenda saat mendaki gunung, terutama ketika mau ditinggal tidur pada malam hari.


5. Bajing dan Tupai


Hewan lucu ini, jika kita jeli, saat mendaki gunung kita dapat melihatnya sedang melompat-lompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Populasi hewan pemakan biji-bijian dan serangga ini juga masih tergolong tinggi sehingga mudah kita temui saat berada di hutan, bahkan sering di buru.


Oya, sekedar mengingatkan, wahai netizen yang budiman, bahwa tupai dan bajing itu dua hewan yang berbeda. Perbedaan terbesar yang bisa dilihat adalah bajing moncongnya datar, sedangkan tupai moncongnya lancip. Lebih jelasnya kalian bisa baca artikel ini 'Perbedaan Bajing dan Tupai, Mana Yang Boleh Diburu?'.



Baik bajing maupun tupai, keduanya mempunyai manfaat ekosistemnya masing-masing. Namun, yang paling sering menjadi hama adalah Bajing karena sering merusak ladang petani.


Bajing dan tupai ini tidak termasuk kategori hewan dilindungi karena termasuk mamalia yang cepat bereproduksi. Namun, pada beberapa daerah, populasi bajing semakin sedikit karena habitat mereka semakin hari semakin hilang ditambah lagi dengan perburuan liar yang dilakukan secara tidak teratur.


Kemampuan bajing untuk mendeteksi predator sangatlah ahli. Jadi jangan berharap kita dapat bersahabat dengan bajing di alam liar karena saat melihat atau mendengar keberadaan kita, bajing pasti akan langsung kabur.


6. Sigung


Kemarin penulis sempat melihat video di instagram dimana salah seorang pendaki terlihat sedang mencoba menyelamatkan sebuah sigung yang terjebak didalam kaleng sarden yang dibuang sembarangan oleh pendaki lain, yang ngakunya pecinta alam.




Hewan sigung di Indonesia ini bentuknya kecil, mungkin sebesar tupai, hanya saja biasanya orang-orang akan menjauhi sigung karena baunya luar biasa busuk.


Pada gunung dengan hutan yang masih lebat, kita dapat menjumpai sigung di atas pohon, atau jika kamu kurang beruntung, sigung tersebut bakal datang ke area camp kita untuk mencari makan. Saat sigung datang, segera usir saja karena akan membuat suasana camp kamu jadi bau busuk, hehe.



Sebenarnya masih banyak sekali hewan liar yang dapat kita jumpai di hutan, seperti gajah, harimau, macan kumbang, macan tutul, kuskus, orangutan, rusa, dan masih banyak lagi yang lainnya. Tetapi hewan-hewan tersebut hanya dapat kita jumpai di hutan-hutan lindung dan taman nasional dimana mereka dikonservasi karena terancam punah.

...

Kalian bisa baca-baca puluhan ebook tentang survival dan dunia petualangan luar ruang yang sudah kami kumpulkan disini.

Agar selalu update info terbaru: Follow instagram @indosurvival & Like Fanpage Facebook Indosurvival

Hewan Liar Yang Sering Dijumpai Saat Mendaki Gunung Hewan Liar Yang Sering Dijumpai Saat Mendaki Gunung Reviewed by indosurvival on Juli 16, 2019 Rating: 5

3 komentar

  1. Wah saya belum pernah ketemu Sigung, btw keren mas bro, blog tema survival masih dikit nih di kita. Mantap

    BalasHapus
  2. saya memang ga pernah mendaki mas, tapi pengalaman masa kecil saya dulu waktu ke kebun yang jauh banget ngelewati bukit, lembah, sungai dan hutan, pernah bertemu dengan hewan-hewan ini, kecuali ajag dan singgung yang tidak pernah saya jumapai

    BalasHapus