ESAR, Cara Mencari Korban Yang Tersesat di Gunung


Apakah sobat petualang pernah penasaran bagaiamana cara tim SAR mencari korban hilang atau tersesat di gunung? mereka tidak sembarangan mencari korban yang tersesat. ada teknik khusus yang bernama ESAR, atau Explorer Search and Rescue.


ESAR (Explorer Search And Rescue) adalah salah satu ilmu SAR yang dikembangkan untuk menangani situasi darurat pencarian korban tersesat, hilang, atau tertimpa musibah saat melakukan penjelajahan di alam bebas.


ESAR memfokuskan pencarian menggunakan SRU Darat sehingga setiap personelnya wajib menguasai ilmu navigasi gunung. Tetapi ada beberapa faktor yang menentukan tingkat kesulitan operasi pencarian gunung, yaitu sebagai berikut:

  • Sikap mental dan perliaku subyek mengenai semangat untuk bertahan hidup
  • Minimnya pengalaman dalam menganalisa medan jelajah
  • Lebatnya hutan dan kontur daerah pencarian yang ekstrim
  • Cuaca yang buruk dari hari ke hari
  • Rendahnya disiplin dan kemampuan tim ESAR
Terdapat 5 mode ESAR yang harus dilakukan untuk menyelamatkan korban yang tersesat di gunung, yaitu:
  • Preliminary
  • Confinement
  • Detection
  • Tracking
  • Evacuation

Metode pencarian tersebut dimulai dari tahap persiapan untuk memperoleh informasi mengenai area pencarian sampai kepada tahapan evakuasi saat korban sudah berhasil ditemukan. Mari kita jabarkan satu persatu metode ESAR tersebut:


1. Preliminary (Perencanaan)

Tim SAR melakukan briefing awal untuk menentukan lokasi pencarian (foto: btv.prokal.co)

Preliminary adalah upaya memperoleh informasi data awal dari daerah pencarian. Langkah awal ini adalah untuk menganalisa data darurat penentuan POD (Probability of Detection) atau titik dimana kemungkinan korban berada saat ini dari informasi yang telah didapatkan sebelumnya.


2.  Confinement (Pengurungan)


Pengecekan dan pemberian informasi kepada pendaki di pintu masuk sebagai upaya confinement (foto: liputan6.com)

Confinement merupakan upaya untuk membatasi daerah pencarian berdasarkan hasil dari analisa POD agar area pencarian tidak meluas kemana-mana dan memastikan agar subyek tetap berada di dalam area pencarian. Caranya adalah dengan menjebak subyek di dalam satu area yang telah diketahui batas-batasnya sampai area itu tersapu bersih oleh tim pencari.


Dalam prakteknya, upaya confinement ini mungkin agak sulit untuk dicapai, tapi dalam area pencarian yang luas, metode ini sangat bermanfaat agar tim pencari fokus pada satu titik.


Metode yang dilakukan dalam upaya confinement ini adalah:


A. Blocking (Trail block & Road block) 


Trail Block – Tim besar dibagi-bagi menjadi beberapa bagian sub-tim dan di kirimkan untuk memblokir jalan setapak yang keluar masuk lingkup area pencarian. Tim ini bertugas mencatat nama-nama dan data dari setiap orang yang meninggalkan area pencarian dan memberitahu yang akan masuk tentang informasi orang yang hilang. 


Setidaknya satu orang dibutuhkan untuk tetap berjaga sepanjang waktu dan dapat memperhitungkan bahwa tidak seorangpun dapat lolos lewat di area pencarian tanpa diketahui.


Trail block harus tetap di awasi sepanjang waktu sampai ada perintah dalam bentuk lain. Trail Block di gunung bisa dilakukan dengan memblokir jalur-jalur setapak yang dijadikan pintu keluar-masuk oleh para pendaki, dan jalur-jalur setapak yang biasa digunakan oleh warga setempat untuk keluar-masuk hutan saat mencari rumput ataupun kayu bakar.


Road Block – Hampir sama dengan Trail Block, Road Block dapat dikerjakan oleh tenaga sukarela dengan memblokir jalan-jalan desa atau perkebunan dengan maksud apabila Subyek lewat di jalur ini segera dapat tertangkap oleh tim pencari.


Road Block di gunung dapat dilakukan dengan menghadang di jalan lingkar yang menyabuk di kaki gunung yang dicurigai kemungkinan Subyek melalui jalur tersebut setelah lolos dari hutan. 



B. Pos Pengamat


Biasanya tim pencari akan membuat pos-pos pengamatan di sekitar batas area pencarian. Sebuah tim kecil di tempatkan pada posisi itu sehingga dapat mengawasi daerah sekitarnya dengan teropong, dan ada kemungkinan dapat mendeteksi Subyek bila ia bergerak lewat di sana.


Beberapa bentuk sinyal SOS dapat di gunakan untuk menarik perhatian Subyek. Dapat juga dilakukan dengan tetap menempatkan seorang pengamat, sementara tim kecil lain bergerak memeriksa beberapa lokasi lain dan obyek-obyek mencurigakan yang berada di dalam jarak pandang pengamat. 


C. Camp In 


Camp-in dapat juga berbentuk seperti pos pengamatan, trail block, radio relay (penghubung radio), atau situasi lain dimana satu tim kecil menempati lokasi-lokasi tertentu dimana posisinya mempunyai jarak pandang yang baik, berada di percabangan jalan-jalan setapak, ataupun pertemuan sungai. Pada camp in juga digunakan beberapa sinyal SOS untuk menarik perhatian subyek pencarian.


D. Track Traps / Jebak Jejak


Track traps Adalah upaya dari tim pencari untuk menjebak subyek sehingga meninggalkan tanda-tanda apabila lewat pada sebuah lokasi. Posisi pemasangan track traps harus di informasikan kepada tim pencari di lapangan agar mengetahui lokasi track traps.


Debu atau lumpur dapat dipergunakan untuk mendeteksi jejak sepatu Subyek apabila dia melewatinya, dan harus diperiksa secara berkala. String lines Lookouts, camp-in, khususnya akan efektif pada daerah-daerah terbuka dimana jarak pandangnya baik. 


Di daerah yang bersemak lebat, Tagged string lines (bentangan tali yang bertanda) akan lebih efectif untuk menjebak Subyek dan mengarahkan ke jalur setapak/pos SAR. Selain itu string lines juga dapat difungsikan untuk membatasi search area, dan menandai sektor pencarian di daerah yang vegetasinya rapat dan lebat. 


3. Detection (Deteksi)


Tim SAR melakukan penyisiran untuk mencari korban hilang.

Deteksi adalah suatu tindakan atas dasar pertimbangan kemungkinan untuk menemukan Subyek atau barang-barang yang tercecer yang ditinggalkannya dimana dapat mempersempit area pencarian. Metode ini sering juga disebut dengan penyapuan oleh tim SAR.


Ada beberapa metode deteksi, yaitu:


Type I Search (Hasty Search), adalah pemeriksaan informal secepat mungkin pada daerah-daerah yang dicurigai berdasarkan analisa dari data darurat. Ini dilakukan pada awal operasi pencarian, dimana tim kecil (3 hingga 5 personil yang berpengalaman) bergerak cepat (sebagai tim pencari pendahulu) memeriksa daerah-daerah yang dicurigai, seperti patahan sungai, menyusur jalan-jalan cabang yang umumnya dipilih oleh Subyek, alur-alur sungai.

Dari beberapa kasus, ada kecenderungan dari subyek untuk memilih jalur turun gunung adalah berjalan di tepi sungai dan menjadikan alur sungai sebagai guide, bahkan ada yang nekad dengan berjalan didasar sungai. Selain memeriksa beberapa titik duga, tim kecil ini juga akan banyak membantu OSC/SMC dalam merencanakan search area.

Type II Search (Open grid) Pencarian yang cepat dan sistimatis atas area yang luas dengan metoda penyapuan. Metoda ini digunakan terutama bila perhitungan waktu untuk bertahan hidup dari subyek sangat pendek, dan jumlah dari tim pencari kurang mencukupi untuk menyapu search area yang luas.

Untuk type ini diperlukan kemampuan kerja individual dari tim pencari, karena jarak lebar antar personil dari tim pencari yang bergerak berjajar tersebut kadang menuntut kemampuan individu untuk tetap dapat bergerak dan sekaligus mengadakan pengamatan sepanjang area penyapuan.

Open Grid efectif dilakukan untuk medan terbuka dengan jarak pandang luas Catatan: penggunaan Open Grid akan menyengsarakan dan mengacaukan operasi pencartian apabila personil pencari selain tidak berpengalaman juga tidak cukup terlatih untuk dapat bergerak menjelajah gunung hutan dengan peta dan kompas.

Type III Search (Close Grid) Yang ingin dicapai dengan metode Close Grid ini adalah suatu pencarian yang cermat atas area yang spesifik. Metoda ini digunakan apabila metode type II sudah digunakan tetapi POD lebih rendah dari yang diharapkan, dan bila area pencarian terbatas, dan tenaga pencari tersedia cukup banyak.

Untuk type III ini jarak antar personil pencari lebih pendek (dari pengalaman, untuk gunung hutan yang sering sekali tertutup kabut, jarak terlebar 5 ~ 7 meter). 



4. Tracking (Pelacakan)

Tim SAR menggunakan anjing pelacak untuk melakukan tracking (foto: pikiranrakyat.com)

Tracking merupakan usaha melacak jejak Subyek, atau tanda-tanda yang ditinggalkan oleh Subyek (catatan: Tracking diperlukan personil yang terlatih, atau bisa juga digunakan anjing pelacak yang dilatih secara khusus untuk terlibat dalam operasi pencarian)

5. Evakuasi


Salah satu proses yang paling penting dalam evakuasi adalah perawatan darurat survivor. 

Evakuasi merupakan usaha untuk memberi perawatan darurat dan memindahkan Subyek ke tempat penampungan yang layak (catatan: untuk operasi ESAR di gunung sebaiknya disediakan tim khusus untuk Evakuasi Medan Sulit mengingat situasi medan di gunung). 


Baca juga: Pedoman Yang Harus Dilakukan Jika Tersesat di Hutan Atau Gunung

Dari pengalaman operasi pencarian di gunung, penentuan POD (Probability of Detection) atau kemungkinan untuk menemukan orang hilang di gunung akan lebih efektif dan relevan dengan membaca peta topografi, dan memperhitungkan analisa kecenderungan pergerakan Subyek berdasar informasi dari para pendaki yang berpengalaman dengan area dimana telah terjadi musibah orang tersesat/hilang.

Perhitungan matematis untuk penentuan POD hanya sesuai untuk medan datar, hanya saja sebagai gambaran perlu dipahami bahwa pendaki yang sehat dapat bergerak dengan cepat turun ke bawah mengikuti kontur sehingga area menjadi melebar ke arah Hilir (Untuk Gunung-gunung tertentu perlu secepatnya dilakukan pemagaran awal sebelum Subyek bergerak makin jauh terutama di daerah landai/datar setelah dia menghabiskan kontur hingga kaki gunung).


Ketepatan dan kecepatan nampaknya sudah menjadi sesuatu yang tidak bisa ditawar dalam upaya menemukan subyek yang hilang di gunung dan harus bertahan untuk tetap hidup, khususnya berjuang melawan hipothermia.


Upaya pemasyarakatan ESAR di Indonesia yang dimulai oleh Wanadri, kemudian juga dari beberapa pengalaman operasi SAR di Gunung penggunaan sistem ESAR dengan benar akan lebih efektif sehingga ESAR perlu dikembangkan bagi para penggiat petualang alam bebas, khususnya para pendaki gunung yang sering terlibat dalam operasi SAR di Gunung.


Karena keterbatasan waktu, materi pengantar ESAR ini memang banyak yang dikurangi, terutama yang berhubungan dengan masalah teknis. Hal terpenting yang harus dipahami adalah bahwa ini hanya sekedar informasi mengenai ESAR, selanjutnya perlu diadakan pelatihan lanjutan khusus mengenai ESAR, yang akan membahas lebih detail dan mempraktekkannya di lapangan mengenai Detection, Marker, String lines dan Tags, Ribbon, ESAR Forms.


Salam Lestari!


Penulis: Endro Sambodo

...

Kalian bisa baca-baca puluhan ebook tentang survival dan dunia petualangan luar ruang yang sudah kami kumpulkan disini.


Agar selalu update info terbaru: Follow instagram @indosurvival & Like Fanpage Facebook Indosurvival


ESAR, Cara Mencari Korban Yang Tersesat di Gunung ESAR, Cara Mencari Korban Yang Tersesat di Gunung Reviewed by indosurvival on Juli 30, 2019 Rating: 5

3 komentar

  1. Wah lengkap banget mas. saya suka nih baca kontennya karena saya juga suka berkegiatan outdoor. Salam kenal ya

    BalasHapus
  2. Bagus artikelnya jangan lupa kunjungi blog saya

    https://technobooks.site/cara-meningkatkan-penjualan/

    BalasHapus
  3. Ternyata banyak juga ya persiapan dan perencanaan penganganan korban pendakian.

    BalasHapus